1. TUMPENG
Banyak pesta
dan upacara dalam adat istiadat tradisional Indonesia melibatkan makanan dan
pesta. Salah satu contoh terbaik adalah tumpeng.
Tumpeng berasal dari Jawa, berupa nasi berbentuk kerucut dikelilingi beraneka
ragam masakan Indonesia. Tumpeng biasanya ada dalam perayaan
"selamatan". Nasi tumpeng dicetak dengan menggunakan anyaman bambu
berbentuk kerucut, nasinya sendiri bisa berupa nasi putih biasa, nasi uduk
(dimasak dengan santan), atau nasi kuning (diwarnai dengan "kunyit").
Nasi ini dikelilingi masakan khas Indonesia seperti sayuran urap, ayam goreng,
semur daging, teri kacang, udang goreng, telur pindang, dadar gulung iris,
tempe orek, perkedel kentang, perkedel jagung, sambal goreng ati, dan lainnya.
Tumpeng berasal dari adat dan kepercayaan asli masyarakat Indonesia yang
memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para dewa atau roh leluhur. Nasi
berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci. Perayaan
dimaksudkan sebagai wujud rasa syukur atas berlimpahnya panen dan segala berkah
lainnya dari Yang Maha Kuasa. Karena memiliki nilai perayaan dan syukuran,
hingga kini tumpeng sering kali berfungsi sebagai "kue ulangtahun versi
Indonesia".
Pesta perayaan
Indonesia lainnya adalah Rijstafel (Bahasa Belanda:
meja nasi), masakan ini memamerkan kemewahan pesta makan nan elegan khas orang
kaya pada masa kolonial sekaligus menampilkan keanekaragaman seni kuliner
Indonesia. Rijstafel klasik terdiri dari 40 macam masakan yang disajikan oleh
40 orang pelayan yang bertelanjang kaki, mengenakan berbusana seragam resmi
warna putih, blangkon, dan kain batik melilit pinggang mereka. Pesta
kontemporer Indonesia saat ini mengadopsi hidangan bufet gaya Barat. Bufet atau juga disebut
prasmanan biasanya dapat ditemukan pada pesta perkawinan atau perayaan lainnya.
Hidangan prasmanan disajikan di atas meja panjang. Tata letak prasmanan pesta
pernikahan di Indonesia biasanya terdiri dari: piring, alat makan (sendok dan
garpu), serbet tisu, diletakkan di ujung, dilanjutkan dengan sajian nasi (nasi
putih dan nasi goreng), serangkaian hidangan khas Indonesia maupun
kadang-kadang disajikan pula hidangan asing, sambal, krupuk, dan diakhiri
dengan gelas air putih atau minuman ringan di ujung meja prasmanan.
2. RENDANG
Rendang (bahasa Minang:
Randang) adalah salah satu masakan tradisional Minangkabau yang menggunakan daging dan santan kelapa sebagai bahan utama dengan kandungan bumbu rempah-rempah
yang kaya. Masakan dengan citarasa yang pedas ini digemari oleh seluruh
kalangan masyarakat, dan dapat ditemukan di seluruh Rumah Makan Padang di Indonesia,
Malaysia,
ataupun di negara lainnya. Masakan ini kadang lebih dikenal dengan nama Rendang
Padang, padahal rendang merupakan masakan khas Minang secara umum.
Pada tahun 2011, rendang dinobatkan sebagai hidangan
peringkat pertama dalam daftar World’s 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan
Terlezat Dunia) yang digelar oleh CNN International
Rendang
memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau.
Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatera Barat,
yaitu musyawarah
dan mufakat, yang berangkat dari empat bahan pokok yang melambangkan keutuhan
masyarakat Minang, yaitu:
- Dagiang (daging sapi), merupakan lambang dari "Niniak Mamak" (para pemimpin Suku adat)
- Karambia (kelapa), merupakan lambang "Cadiak Pandai" (kaum Intelektual)
- Lado (cabai), merupakan lambang "Alim Ulama" yang pedas, tegas untuk mengajarkan syariat agama
- Pemasak (bumbu), merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat Minangkabau.
Dalam tradisi
Minangkabau, rendang adalah hidangan yang wajib disajikan dalam setiap
perhelatan istimewa, seperti berbagai upacara adat Minangkabau, kenduri, atau menyambut tamu
kehormatan.
Dalam tradisi Melayu,
baik di Riau,
Jambi,
Medan
atau Semenanjung Malaya, rendang adalah hidangan istimewa
yang dihidangkan dalam kenduri khitanan,
ulang tahun,
pernikahan,
barzanji,
atau perhelatan keagamaan, seperti Idul Fitri
dan Idul Qurban.
3. SOTO
Soto, sroto, atau coto
adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari kaldu daging dan
sayuran. Daging yang paling sering digunakan adalah sapi dan ayam, tapi juga babi dan kambing.
Berbagai daerah di Indonesia memiliki jenis soto sendiri, dengan kandungan yang
berbeda-beda, misalnya Soto Kediri soto Madura,
soto Betawi,
soto Padang,
soto Bandung,
soto Sokaraja, soto Banjar,
soto Medan, coto Makassar.
Soto juga dinamai menurut kandungannya, misalnya soto ayam,
soto babat, soto kambing.
Soto memiliki banyak kemiripan dengan sop.
Karena ada beberapa jenis soto di
Indonesia, masing-masing mempunyai cara penyajian yang berbeda-beda. Soto bisa
dihidangkan dengan berbagai macam lauk, misalnya kerupuk,
perkedel, emping melinjo, sambal, saus kacang, dan lain-lain. Dan juga
pula dengan tambahan lainnya seperti sate telur pindang, sate kerang, jeruk limau,
koya (campuran tumpukan kerupuk dengan bawang putih) dll. Seperti kita ketahui
bahwa makanan pokok orang Indonesia adalah nasi, sehingga soto biasanya
dihidangkan dengan nasi sebagai menu utama. Namun, ada perbedaan dalam hal menu
utama nasi tersebut. Kebanyakan soto dihidangkan secara terpisah dengan nasi,
seperti Soto Betawi, Soto Padang, dan lain-lain. Namun, ada juga yang
dihidangkan bersama dengan nasi atau soto campur nasi, misalnya Soto Kudus.
Selain itu, ada juga soto yang dihidangkan dengan lontong atau nasi yang sudah
dimasak dengan dibungkus daun pisang, misalnya Coto Makassar. Kemudian, ada
juga yang memakai mie,
dan bukan nasi sebagai menu pokoknya, misalnya Soto Mie Bogor.
4. PEMPEK
Pempek atau Empek-empek adalah makanan
khas Palembang
yang terbuat dari ikan dan sagu. Sebenarnya sulit untuk mengatakan
bahwa pempek pusatnya adalah Palembang karena hampir di semua daerah di Sumatera Selatan
memproduksinya.
Penyajian
pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka
atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang
dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih,
dan garam.
Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk
menambah nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar pulau Sumatera
maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak
menyukai pedas. Cuko dapat melindungi gigi dari karies (kerusakan lapisan email
dan dentin). Karena dalam satu liter larutan kuah pempek biasanya terdapat 9-13
ppm fluor. satu pelengkap dalam menyantap makanan berasa khas ini adalah irisan
dadu timun segar dan mie kuning.
Jenis pempek
yang terkenal adalah "pempek kapal selam", yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan
pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek
lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama "ada'an"), pempek
kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek
telur kecil, dan pempek keriting.
Pempek bisa
ditemukan dengan sangat mudah di seantero Kota Palembang. Pempek dijual
dimana-mana di Palembang, ada yang menjual di restoran, ada yang dipinggir
jalan, dan juga ada yang dipikul. Disemua kantin sekolah/tempat kerja/kampus
pasti ada yang menjual pempek. Tahun 1980-an, penjual pempek biasa memikul 1
keranjang pempek penuh sambil berkeliling Kota Palembang jalan kaki menjajakan
makanannya.
5. RAWON
Rawon atau nasi rawon (karena selalu
disajikan dengan nasi)
adalah menu berupa sup daging dengan bumbu khas karena mengandung kluwek. Rawon, meskipun dikenal sebagai
masakan khas Jawa Timur (seperti Surabaya),
dikenal pula oleh masyarakat Jawa Tengah
sebelah timur (daerah Surakarta).Daging untuk rawon umumnya adalah
daging sapi
yang dipotong kecil-kecil. Bumbu supnya sangat khas Indonesia,
yaitu campuran bawang merah, bawang putih,
lengkuas
(laos), ketumbar,
serai,
kunir,
lombok,
kluwek,
garam,
serta minyak nabati. Semua bahan ini (kecuali serai dan
lengkuas) dihaluskan, lalu ditumis sampai harum. Campuran bumbu ini kemudian
dimasukkan dalam kaldu rebusan daging bersama-sama dengan daging. Warna gelap
khas rawon berasal dari kluwek.Rawon disajikan bersama nasi, dilengkapi dengan tauge kecil, daun bawang,
kerupuk,
dan sambal.
6. RUJAK CINGUR
Rujak cingur
adalah salah satu makanan tradisional yang mudah ditemukan di daerah Jawa Timur,
terutama daerah asalnya Surabaya.
Dalam bahasa
Jawa
kata "cingur" berarti "mulut", hal ini merujuk pada bahan
irisan mulut atau moncong sapi yang direbus dan dicampurkan ke dalam hidangan.
Rujak cingur biasanya terdiri dari irisan beberapa jenis buah-buahan seperti ketimun,
krai (sejenis ketimun khas Jawa Timur),bengkoang, mangga
muda, nanas, kedondong dan
ditambah lontong, tahu, tempe,
bendoyo dan cingur serta sayuran-sayuran
seperti kecambah/tauge, kangkung dan
kacang panjang. Semua bahan tadi dicampur
dengan saus atau bumbu yang terbuat dari olahan petis
udang, air
matang untuk sedikit mengencerkan, gula/gula merah, cabai, kacang tanah
yang digoreng, bawang goreng, garam dan
irisan tipis-tipis pisang biji hijau yang masih muda (pisang klutuk). Semua saus/bumbu dicampur
dengan cara diuleg, itu sebabnya rujak cingur juga sering
disebut rujak uleg. Dalam penyajiannya rujak cingur dibedakan menjadi dua
macam, yaitu penyajian 'biasa' dan 'matengan' (menyebut huruf e dalam kata
matengan seperti menyebut huruf e dalam kata: seperti/menyebut/bendoyo).
Penyajian 'biasa' atau umumnya, berupa semua bahan-bahan yang telah disebutkan
di atas, sedangkan 'matengan' (matang, jawa) hanya terdiri dari bahan-bahan
matang saja; lontong, tahu goreng, tempe goreng, bendoyo (krai yang digodok)
dan sayur (kangkung, kacang panjang, tauge) yang telah digodok. Tanpa ada bahan
'mentah'nya yaitu buah-buahan, karena pada dasarnya ada orang yang tidak
menyukai buah-buahan. Keduanya memakai saus/bumbu yang sama. Makanan ini
disebut rujak cingur karena bumbu olahan yang digunakan adalah petis udang dan
irisan cingur. Hal ini yang membedakan
dengan makanan rujak pada umumnya yang biasanya tanpa menggunakan bahan cingur tersebut. Rujak cingur
biasa disajikan dengan tambahan kerupuk,
dan dengan alas pincuk (daun pisang)
atau piring.
7.
Winko
Babat
Wingko babat tentunya sudah bukan menjadi makan
asing lagi bagi Anda. Masyarakat Indonesia pasti sudah pernah merasakan
penganan ini. Jangan salah sangka dulu, wingko babat bukanlah sejenis makanan yang terbuat
dari babat sapi. Makanan ini sejenis camilan yang memiliki rasa manis, sehingga
jika orang memiliki keadaan gigi yang sensitive maka dia tidak akan sanggup
memakannya banyak-banyak. Tentu saja, bagi yang pernah merasakannya akan selalu
merasa rindu akan tekstur dan rasanya yang manis. Makanan ini tersedia dalam
berbagai rasa dan warna, semua bahan pembuatnya menggunakan bahan tradisional
yang sangat alami dan aman untuk dikonsumsi. Makanan ini termasuk jenis roti
yang bisa kita santap bersama minuman panas. makanan ini sudah sangat terkenal
dan memiliki banyak penggemar, khususnya mereka pecinta kuliner. Bahan baku
wingko adalah dari kelapa yang sudah diparut. Karena itulah disaat kita
memakannya kita akan merasakan tekstur yang agak kasar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar